We Can do
it !!!!!!!!
“Uh
. . . santri itu kerjanya ngaji, duduk manis depan kitab, dengerin penjelasan
guru sambil nungging trus manggut – manggut, bukan karena ngerti tapi karena ngantuk”
Wuuuussshhh,,,
Itutuh sepenggal kalimat yang keluar dari
mulut orang – orang yang menatap santri sebelah mata dan hanya bisa mendengar
obrolan alias ocehan orang – orang yang tidak bertanggungjawab atas kalimat
yang telah mereka lontarkan.
Setidaknya
pernah dengerkan kalimat kaya gitu ?
Kita, selaku Mukotob (alias orang yang tituju
sebagai orang ketiga) pasti ngerasa
kepanggil kan ?
Gimana nggak tersinggung coba ketika kita
mendengar orang yang punya paradigma kaya gitu ?
Dan anehnya lagi, bahkan santri sendiri ada
yang ikut ngoceh kaya gitu, kaya ya emang dia nggak ikhlas jadi santri kali ya,
jadi semangat kesantriannya nggak ada, jadi kerjanya cuma manggut –
manggut ngantuk pas duduk
dipengajiannya.
Nah, nah, nah
. . .
Sebenernya mereka nggak tahu, bahwasannya
pesantren itu benteng pertama yang membendung arus modernisasi, menanam
tembakau iman bagi erosi sekulerisasi bahkan sebagai pagar besi
dari ancaman westernisasi. Ketika orang lain ketagihan dengan dengan macam –
macam jejaring sosial, ketika orang lain tergiur dengan fashion ala western
(dengan mengatasnamakan fashion muslim tahun sekian lah) juga ketika orang lain
terjebak dengan hidangan “food” ala lidah america yang mereka konsumsi.
Yang perlu mereka tahu itu, sebenarnya kita
bukan nggak gaul, kita bukan kamseupay, kita bukan wong deso, disaat kita kurang
tahu atau bahkan nggak tahu banyak hal baru dan peristiwa peristiwa yang
terjadi di luar sana, tetapi pesantren menyuruh dan mengintruksikan dahulu kepada para santri terhadap apa yang akan kita
hadapi ketika kita menghirup polusi akidah yang semakin merajalela dan
menakutkan di luar sana.
Ketika orang lain dapat mengotak – atik
facebook, follow twitter, skype dan jejaring sosial lainnya, maka santri juga
dapat melakukannya, kata siapa kita nggak bisa?? Kita bukan nggak bisa, tetapi
kita sedang beradaptasi dahulu sekaligus memfilter mana yang harus diadopsi dan
terdapat unsur baiknya untuk kemashlahatan ummat dan mana yang nggak. Karena
Prioritas kita tetap “anfa’uhum Linnaas”.
Lalu apa
gerakan yang harus kita lakukan supaya kita nggak disebut santri kamseupay ?
Para akhwat sekalian. . .
Kita kaji sedikit deh,, trus kita tafakkuri,
. . .
Sebelum Allah swt menurunkan ayat – ayat
tentahg akidah, tentang ubudiyah, tentang muamalah, kita sadar nggak bahwa
wahyu allah swt yang pertama diturukan kepada nabi kita itu adalah surat
al-alaq dan kenapa alasannya coba ?
Ayat ini ngasih dilalah atau petunjuk buat
kita secara tersembunyi, lafazd yang pertama berbunyi adalah lafazh “iqro” yang
maknanya bacalah, diteruskan dengan lafazh “Bismirabbika”,, Nah, dalam ilmu
grammar bahasa arab yang biasa kita kenal dengan ilmu nahwu itu memberi
ketentuan bahwasannya “Jika ada fi’il amar tanpa maf’ul, hal ini menunjukkan al
‘am (alias umum)”.
Jadi perintah
allah dia ayat satu ini menunjukkan sebuah keumuman atas suatu kemestian. Jadi, makna dari lapazd
iqra tersebut bukan hanya saja membaca buku (kalau al Quran susah mesti kita
baca), akan tetapi baca semua hal yang terjadi,
baca alam, baca lingkungan dan hal – hal yang lainnya dengan syarat
“bismi rabbika” membaca denga nama tuhanmu.
Udah
banyak banget loh kata – kata bijak yang menyanjung kata yang satu ini
(membaca), pasti udah pada nggak asing kan ?
Seperti
“Buku itu adalah gudangnya ilmu dan membaca
adalah kuncinya”
Ea
gak ? ea gak ?
Eh
. . ada yang bertanya,
Ukhty,
kita kan gaptek gimanya mau baca dunia coba, hape ajja dikumpulin, waktu kita
penuh dengan kegiatan pendidikan, tv nggak ada, kapan mau ngotak – ngatiknya
coba ??
Hmmm
. . .
Harus
diakui, kritis juga santri yang bertanya kaya gitu, tapi lebih ke unsur nggak
tulus jadi santri gittu . . . hehehe
Padahalkan
dimana kita berdiam diri, maka peraturan disana lah yang harus kita ta’ati. Dan
ingat, disetiap peraturan yang dibuat, pasti ada nilai positiv, hikmah dan
tujuannya. Ea nggak . . Ea nggak ?? hee
Akhwat semua . . .
Itulah hebatnya kita, Hape kita dikumpulin
tapi kita tahu banyak tentang fb ( tahu gimana caranya ngeblokir teman, gimana
cara bikin group, bikin catatan trus di tag ke orang lain, de el el), meskipun
kita disibukkan denagn 4x waktu mengaji tapi kita masih bisa ngotak – ngatik
adroid punya orang lain bahkan kita juga bisa tahu cara mainin angry bird. hee
Iya
nggak ??
Yang jadi masalahnya, dunia itu terlalu luas,
terlalu banyak apa yang harus kita baca, coba baca lebih banyak buku deh, lama
– lama kita pasti merasa lebih rendah dan betapa bodohnya kita, ketika kita
tahu ternyata masih banyak hal yang belum kita ketahui diluar sana, masih
sedikit sekali sesuatu yang baru kita ketahui.
Nggak selalu perlu Hape buar nge’Search
berita berita, nggak selalu perlu fb agar kita bisa dapet tausyiah – tausyiah
dari tautan – tautan orang lain.
Membaca
itu banyak caranya mbak broww . . . !!!!!!
Warnet udah pabalatak, perpus juga ditiap
lembaga pendidikan juga udah banyak, mau koran supaya lebih tahu informasi
seputar dunia saat ini ? dikampusku (IAIC) juga ada, murah lagi Cuma 1500,
hehehe
Mau
beli ? Dateng bajja ke kobong deh, ntar akyuh beliin, heee
Udah, jangan banyak pertimbangan deh, harga
sebesar itu nggak bikin mata melotot kan jika dibandingkan dengan banyaknya
informasi yang kita terima kan ?
Pada punya banyak buku bacaan kan
??
Jawabanya harus “Punya”, please deh, secara,
zaman kaya gini nggak punya banyak buku, apalagi bagi yang udah jadi
mahasiswa/i, harus udah punya banyak referensi loh, karena tugasnya mahasiswa
itu bikin konklusi dari berbagai sumber, karena jika mereka hanya bisa denger
dari orang lain, mereka nggak bakalan punya acuan pada saat ngasih argument ato ketika ada pertanyaan
yang dilontarkan padanya. Tapi tetep bagi yang masih jenjang sekolah juga,
harus banyak baca buku, mumpung umur kalian belum pada tua kaya akyuh, entar
malah nyesel coba.
Saatnya Ittiba dan tinggalkan
Taqlid . . .
Gini
nih ya. . temen – temen . . .
Disekian banyak jurnal yang akyuh ikuti nih,
hampir setiap para narasumber (yang pastinya para penulis dong) buka Opininya
dengan kalimat “Saya suka menulis dan dapat menulis karena
membaca”, UUUUhhhh,,, memang,
membaca itu ampuh banget ya mbak broo . .
Jadi, kesinambungan membaca sama menulis itu
erat banget sobat. Bagaimana tidak, sebagian dari mereka ada yang punya prinsip
“Baca, Baca, kemudian Tulis”. Setiap orang pasti akan mengalami kematian, dan
jangan sampai kematian itu membawa pergi juga nama kita, buatlah karya agar
dunia mengakui kita pernah ada, dengan segenap kemampuan kita dan mempersembahkannya
untuk kemanfaatan orang banyak.
Salah seorang penulis sekaligus dosenku di
kampus pernah memberi pesan seperti ini,
“Seringlah
kau kunjungi perpustakaan, namun bukan hanya untuk sekedar membaca dan
menemukan atau mencari informasi saja. Sisihkan dan luangkan waktumu untuk
menatap semua buku dan kenali penulisnya, kemudian simpan
namanya dalam lubuk
hati dan renungilah :
1.
Bahwa buku-buku ini adalah hasil pemikiran
2.
Bagaimana si penulis dapat membuat tulisan sebanyak ini
3.
kapan dia bisa menulis
4.
Mengapa dia memiliki ide dan gagasan seperti itu.
5.
Bagaimana si penulis dapat merangkai kata-kata dan mendeskripsikan
ide juga plot sekaligus konflik yang terjadi.
Dan
ingatlah bahwa penulis itu adalah pemikir.”
Uuuuhhh,,, sungguh menjadi motivasi
tersendiri ya buat kita yang awam banget sama dunia kepenulisan, dan sebenernya
setiap orang itu pasti dianugrahi jiwa seorang penulis, dan setiap orang pasti
bisa menulis.
Temen-
temen pernah nyadar nggak ??
Jika diingat, kita dapat hafal nama-nama Ulama
besar islam terdahulu dari mana coba ??
Ya,
benar, dari karyanya. karna tulisannya lah kita dapat mengenal sosok mereka,
Imam al Ghazali dengan Ihya Ulumuddinnya, Imam Bukhori dengan al-Bukharinya,
Imam Nawawi dengan Tafsir Munirnya, dan masih banyak lagi.
Subhaanallah . . .
Ternyata masih banyak ilmu yang harus kita cari
dan kita gali ya temen-temen . .
Udah deh, sekarang jangan ada galau galauan lagi,
kita itu generasi muda penerus bangsa, tanggung jawab kita berat banget, masih
banyak urusan diluar sana yang mesti kita hadapi. Tapi ingat teguhkan Iman kita
terlebih dahulu, bekali diri dengan pengetahuan dengan membaca banyak buku yang
bermanfaat, dan kemudian Konklusikan rutinitas dengan goresan pena, sehingga
orang-orang disekitarmu akan mengakui keberadaanmu. Buktikan kesungguhan kita
dengan cara memperlihatkan keseriusan kita dalam belajar yang berstatus santri
dan pelajar.
Jadi lah agent of change, orang yang
bermanfaat bagi orang lain, kita rubah paradigma mereka tentang kita, kasih
mereka yang terbaik dan buktikan pada dunia kita pasti bisa.
Semangat !!!!!!!!!!! ^.^
Ufiw
:)
BalasHapus